May 30, 2017 Last Updated 11:49 PM, Jun 20, 2016

Cerpen Spensa "Pelangi Buat Maia"

Spensa – Maia  adalah   sahabatku.  Dia adalah gadis yang cantik, baik, ramah, asyik, pintar, dan sangat sempurna. Kelas tidak akan ramai tanpa Maia. Semua kawan menyayangi Maia. Kukira, Maia akan selalu ada bersama kami, namun kenyataan berkata lain.
 
Aku Chika. Aku dan Maia adalah sepasang sahabat yang teramat akrab, layaknya amplop dan perangko. Taka da satupun yang bisa memisahkan kami.
Maia memiliki satu keinginan yang sampai sekarang belum tercapai. Ia ingin sekali melihat pelangi. Setiap hujan, Maia akan menunggu sampai hujan itu reda. Hanya untuk melihat pelangi. Tapi sayangnya, hingga kini keinginan itu hanya sebatas keinginan.
 
Sudah sebulan, aku dan teman-teman tidak bertemu sosok Maia. Maia sedang terbaring lemah di rumah sakit. Penyakit leukemia menyebabkan Maia harus terus berada di rumah sakit. Tentu saja, sekolah Maia harus ditinggalkan sementara.
 
Sepulang sekolah, aku rutin mengunjungi rumah sakit. Aku selalu menyempatkan diri mengunjungi Maia. Di rumah sakit, kulihat sahabatku masih tertidur pulas di ranjangnya. Aku memilih untuk tidak mengganggunya. Aku mengerjakan tugas sejarah yang diberikan Bu Erna, sambil menunggu Maia bangun.
 
“Eh.. ada Chika!” kata seseorang. Aku pun menoleh, kulihat Maia sudah membuka matanya.
 
“Wah.. sudah bangun! Iya nih, tugas sejarah dari Bu Erna, otakku serasa ingin pecah!” ujarku.
 
“Haha, kasian banget… sorry ya, gak bisa bantu” canda Maia. Ia masih sempat bercanda di saat seperti ini.
 
“Chik, bagaimana tugas bahasa Indonesia kemarin? Kalau tidak salah disuruh pidato kan?” tanya Maia.
 
“Sudah, deh. Jangan tanya itu. Badmood jadinya. Aku dapet e-nam-pu-luh,” kataku kesal.

“Hoho.. kasiann.. aku turut berduka deh!” canda Maia
 
“Iiihh.. Maia nakal, awas ya, nanti kalau udah sembuh. Tunggu pembalasan Nona Chika!” candaku sambil menepuk dada.
 
“Hii.. takut!” kata Maia sambil pura-pura takut.
 
“Eh Mai, cepet sembuh, dong! Semua kangen kamu, tau! Kelas sepi kalau tidak ada kamu. Aku juga jadi gak nemu buku-buku pelarian kalau mau nyontek PR,” kataku
 
“Ah, kamu ini! Iya, sih aku juga rindu kalian. Aku juga ingin keluar dari sini. Aku sudah bosen disini, tapi apa daya belum boleh pulang,” kata Maia sedih. Aku bisa merasakan kesedihannya.
 
“Tapi aku yakin, kok. Maia pasti bisa sembuh” kataku menghibur. Maia tersenyum.
 
Tiba-tiba, rintik demi rintik air berjatuhan, membasahi dedaunan yang sanggup kuamati dari balik jendela ruangan Maia. Hujan. Aku segera menutup jendela.
 
“Aneh, ya. kok tiba-tiba hujan?” kataku sambil menikmati sebungkus keripik dari Maia.
 
“Kan biasanya suka ada pelangi, iya tidak?” gumam Maia.
 
Tak sampai lima belas menit. hujan berhenti. Aku melihat ada larik-larik dan gurat yang membentuk beberapa spektrum warna yang nampak abstrak. Indah sekali. Pelangi.
 
“Chik lihat, itu pelangi, Chik, pelangi!” teriak Maia senang.
 
“Chik, bawa aku keluar, aku ingin lihat pelangi, ayo, Chik, ayo!” lanjut Maia sambil menunjuk kursi roda.
 
“Bukannya aku tidak mau, Mai. Tapi, kamu belum diizinkan keluar, apalagi kondisi kamu belum stabil,” jawabku.
 
“Tolong, Chik, aku ingin melihat pelangi, untuk yang pertama dan terakhir. Aku tahu setelah ini aku tidak bisa lihat pelangi lagi. Tolong, Chik! Katanya kamu sayang aku,” pinta Maia.
 
“Mai! Kamu ngomong apa! Jangan ngomong gitu lagi, Mai!” balasku kaget.
 
“Chik..!” kata Maia sedih, lalu ia menangis. Sebetulnya, aku ingin sekali membawa Maia keluar untuk melihat pelangi, tapi bukan di saat seperti ini.
 
“Baiklah, aku akan bawa kamu keluar, tapi sebentar aja, ya?” kataku akhirnya
 
Maia mengangguk senang. Aku langsung mengangkatnya dan memindahkannya ke kursi roda. Berat badan Maia tambah menurun karena penyakitnya.
 
Aku membawa Maia keluar kamar. Maia senang sekali. Jarang ia dapat melihat pemandangan seperti ini. Aku mengajaknya ke taman, tempat dimana kami bisa melihat pelangi itu dengan jelas.
 
“Waahh.. bagus sekali, ya. Chik, fotokan aku sama pelangi, dong!” pinta Maia. Aku mengangguk tersenyum dan mengeluarkan kamera dari dalam tas. Diam-diam, aku bersyukur atas tugas fotografi yang mengharuskanku membawa kamera hari ini.
 
Tiga detik setelah aku memotret Maia, hal yang kutakutkan terjadi. Maia pingsan! Sontak, aku berteriak dan membawanya kembali ke ruangan.
 
“Dokter, Maia pingsan!” teriakku pada dokter yang menangani Maia
 
Aku langsung menelepon Tante Ren, Mama Maia. Tak lama kemudian Tante Ren tiba di rumah sakit.
 
“Maaf, ibu dan adik, kalian tidak bisa masuk.” Kata Suster menghalangi kami untuk masuk ke dalam UGD.
 
Aku terduduk di kursi tunggu sambil menangis.
 
“Tante Ren, maafkan Chika. Chika mengajak Maia keluar karena dia ingin melihat pelangi,” ujarku berurai air mata. Sungguh, aku ingin mengutuk diriku sendiri.
 
“Kamu jangan sedih. Seharusnya, tante berterima kasih. Akhirnya, Maia bisa mewujudkan impiannya melihat pelangi,” sahut Tante Ren sambil menahan tangis.
 
“Nyonya Ren,” panggil seseorang yang kami tunggu-tunggu.
 
“Dokter.. Maia gimana? Maia selamat, kan?” kata Tante Ran tak sabar.
 
Dokter itu menghela nafas panjang. “Maaf, bu. Kami sudah berusaha tapi…”
Tante Ren langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD, tanpa mendengar kata-kata dokter lebih lanjut.
 
“Maia, bangun, nak!” ujar Tante Ren parau melihat Maia sudah terbujur kaku.
 
“Maia, bangun.. Aku janji akan mengajakmu melihat pelangi lagi,” kataku sambil mengguncang-ngguncang tubuh Maia.
 
Tapi, semua terjadi begitu cepat. Pelangi itu mengantarkan Maia menuju akhir terindah melalui spektrum-spektrum warnanya yang mampu kulihat samar dari balik jendela.


By : Sarah Salsabila

Last modified on Saturday, 11 June 2016 10:19
Super User

Admin SMP Negeri 1 Bojonegoro