Hari terakhir sekaligus puncak rangkaian kegiatan Pondok Ramadan SMP Negeri 1 Bojonegoro berlangsung dengan khidmat melalui dua agenda utama: salat tarawih berjamaah yang diikuti seluruh murid kelas IX, serta peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H. Kegiatan ini menjadi penutup dari serangkaian program keagamaan yang telah dijalani selama bulan Ramadan di lingkungan sekolah.
Salat tarawih malam terakhir dipimpin oleh Bapak Khafif Ahmaruddin, M.Pd., yang sekaligus bertindak sebagai penceramah dalam peringatan Nuzulul Qur’an dengan mengangkat tema “Membangkitkan Cinta Al-Qur’an pada Gen Z”, sebuah tema yang relevan di tengah tantangan era digital yang kerap mengalihkan perhatian generasi muda dari nilai-nilai keagamaan.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh tim Tahfidz SMPN 1 Bojonegoro, yang beranggotakan Nadhira, Andini, Rizqi, Reysya, Salsabilla, dan Akniha, seluruhnya merupakan murid kelas IX. Mereka membacakan Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menjelaskan tentang turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (Sumber: Kemenag RI/NU Online)
Dalam ceramahnya, Bapak Khafif menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an berlangsung melalui tiga tahapan. Pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Kedua, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat. Ketiga, wahyu tersebut diajarkan dan disampaikan kepada para sahabat agar dapat dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bapak Khafif juga mengajak para murid untuk menelaah Surah Al-Qadr, yang mengisahkan kemuliaan malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Menurutnya, malam tersebut menjadi salah satu bukti keagungan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.
Bapak Khafif turut menekankan keutamaan belajar di malam hari. Menurutnya, suasana malam yang lebih tenang membuat ilmu lebih mudah meresap ke dalam hati. Ia menggambarkan Al-Qur’an bukan sekadar sumber pengetahuan, melainkan cahaya ilmu dan kemuliaan yang menerangi kehidupan manusia.
Untuk memudahkan pemahaman, Bapak Khafif menghadirkan sebuah analogi yang sederhana namun mengena. Meski seseorang hanya memakan sebutir dan tidak merasa kenyang, sarinya tetap terserap oleh tubuh. Demikian pula dengan ilmu, meski seseorang merasa belum sepenuhnya memahami apa yang dipelajari, sedikit demi sedikit ilmu itu tetap akan meresap ke dalam batin dan membentuk karakter.
Karena itu, ia mengingatkan para murid agar tidak berkecil hati ketika belum memahami suatu pelajaran. Yang terpenting adalah terus menjaga semangat dan kecintaan terhadap ilmu.
“Paham ga paham, nyantol ga nyantol, harus tetap senang ilmu,” ujar Bapak Khafif dalam ceramahnya.
Pesan itu tampaknya menjadi ruh dari seluruh rangkaian Pondok Ramadan tahun ini. Bukan sekadar tentang hafalan ayat atau pemahaman hukum fikih, melainkan tentang bagaimana menumbuhkan sikap batin yang terbuka dan cinta terhadap proses belajar itu sendiri. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan untuk tetap betah bersama ilmu meski belum sepenuhnya mengerti adalah bekal yang tak ternilai.
Kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni semata. Lebih dari itu, semangat yang dibawa pulang oleh para murid diharapkan terus menyala jauh melampaui bulan Ramadan menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, tetapi benar-benar cahaya yang menerangi cara berpikir, bertutur, dan bertindak dalam keseharian.
Sebab Al-Qur’an diturunkan bukan untuk dimengerti sekaligus dalam satu malam, melainkan untuk ditemani sepanjang hayat, ayat demi ayat, hari demi hari, dalam setiap tahap kehidupan manusia.
